Liquid Crystal
Display atau biasa juga disebut LCD
adalah salah satu jenis tampilan yang dapat digunakan untuk
menampilkan karakter-karakter angka, huruf dan karakter-karakter
simbol lainnya selain tampilan LCD lain dan tampilan seven
segments. Keistimewaan dari LCD matriks
ini dibanding LCD lain dan seven segment
adalah dapat digunakan untuk menampilkan karakter-karakter simbol
seperti { ,
} dan lain sebagainya. Hal ini karena pada LCD matriks digunakan
dot-matriks (titik-titik yang membentuk matriks) untuk menampilkan
suatu karakter sehingga LCD matriks dapat ditampilkan lebih banyak
bentuk karakter dibanding modul tampilan lainnya.
Untuk menghubungkan dengan mikrokontroler telah dipersiapkan
kaki-kaki pada modul LCD matriks yang secara kompatibel dapat
langsung dihubungkan dengan port-port mikrokontroler.
Konfigurasi kaki-kaki pada LCD matriks ini diperlihatkan pada tabel
di bawah ini.
Tabel 2.3.
Konfigurasi Kaki LCD Matriks
Input/Output
|
Fungsi
|
|
VSS
|
-
|
Ground dari modul kerangkaian
|
VDD
|
Input
|
Catu daya luar +5
Volt ke modul tampilan
|
VO
|
Input
|
Tegangan kemudi LCD – Tegangan
pengatur kontras dan sudut penglihatan modul LCD
|
RS
|
Input
|
Sinyal
pemilih mode :
0 =
Operasi kirim instruksi ke LCD
1 = Operasi kirim
data ke LCD
|
R / W
|
Input
|
Kontrol
arah data :
0 =
Tulis kemodul LCD
1 = Baca dari modul LCD
|
E
|
Input
|
Operasi enable = Mengaktifkan
fungsi baca atau tuli
|
DB0–DB3
|
Input/Output
|
4 Bit MSB dari bus data dua
arah. Jalur-jalur ini hanya digunakan pada mode transfer data 8
bit.
|
DB4–DB7
|
Input/Output
|
4 Bit MSB dari bus data dua
arah. Jalur-jalur ini digunakan baik pada mode 4 bit maupun pada
mode transfer data 8 bit.
|
LCD ini mempunyai CGROM (Character Generator Read Only Memory),
CGRAM (Character Generator Random Access Memory) dan DDRAM
(Display Data Random Access Memory). [LCD]
ADC0809
adalah IC pengubah tegangan analog menjadi tegangan digital dengan
masukan berupa 8 kanal input yang dapat dipilih. IC ADC0809 dapat
melakukan proses konversi secara terkontrol (terprogram) atau pun
free running, artinya ADC tersebut akan mengkonversi
terus-menerus sinyal input yang masuk ke ADC.
Tabel 2.2.
Pemilihan Kanal Input ADC0809

Sistem mikroprosesor atau mikrokontroler hanya dapat mengolah (memproses) data dalam bentuk biner saja, atau lebih sering disebut besaran digital, oleh sebab itu setiap data analog yang akan diproses oleh mikroprosesor atau mikrokontroler harus diubah terlebih dahulu kedalam bentuk kode biner (digital).
Tegangan analog yang merupakan masukkan dari ADC berasal dari transducer. Transducer inilah yang mengubah besaran kontinyu seperti temperature, frekuensi, tekanan, kecepatan, ataupun putaran motor menjadi tegangan listrik. Tegangan listrik yang dihasilkan oleh transducer yang merubah secara kontinyu pada suatu range tertentu disebut tegangan analog, tegangan analog ini diubah oleh ADC menjadi bentuk digital yang sebanding dengan tegangan analognya.
![]() |
Gambar 2.13. Pin ADC 0809 8-bit
|
Seperti yang dikatakan sebelumnya, ADC ini mempunyai 8 kanal saklar
analog multipleks yang diatur oleh Address Latch and Decoder
di mana multiplexer ini akan meneruskan sinyal analog tersebut ke
bagian konversi tegangan. Pada mode terkontrol, proses konversi
dilakukan setelah perintah start yaitu logika 1 pada kaki START
diberikan.
Kecepatan konversi tergantung dari frekwensi clock yang diberikan oleh rangkaian eksternal. Sedangkan hasil konversi dikirimkan ke Tri State Output Latch Buffer yang kompatibel dengan level TTL, yaitu sebuah buffer penahan yang bersifat tiga tingkat di mana tingkat pertama terjadi pada saat data hasil konversi masuk ke input dari bagian ini. Tingkat kedua saat data tersebut di latch (terjadi secara otomatis dalam IC ini setiap kali konversi) ke dalam buffer internalnya dan tingkat ketiga saat sinyal OE yang berlogika 1 diberikan ke kaki OE IC ini sehingga data yang ada dalam buffer internal dikirim ke bagian output (D0…D7).
Selama kaki OE masih berlogika 0 maka jalur output (D0…D7) bersifat high impedance (impedansi tinggi) sehingga pada suatu sistem yang kompleks, jalur ini masih dapat digunakan oleh komponen lain yang mempunyai kemampuan akses dengan menggunakan sistem bus.
Kecepatan konversi tergantung dari frekwensi clock yang diberikan oleh rangkaian eksternal. Sedangkan hasil konversi dikirimkan ke Tri State Output Latch Buffer yang kompatibel dengan level TTL, yaitu sebuah buffer penahan yang bersifat tiga tingkat di mana tingkat pertama terjadi pada saat data hasil konversi masuk ke input dari bagian ini. Tingkat kedua saat data tersebut di latch (terjadi secara otomatis dalam IC ini setiap kali konversi) ke dalam buffer internalnya dan tingkat ketiga saat sinyal OE yang berlogika 1 diberikan ke kaki OE IC ini sehingga data yang ada dalam buffer internal dikirim ke bagian output (D0…D7).
Selama kaki OE masih berlogika 0 maka jalur output (D0…D7) bersifat high impedance (impedansi tinggi) sehingga pada suatu sistem yang kompleks, jalur ini masih dapat digunakan oleh komponen lain yang mempunyai kemampuan akses dengan menggunakan sistem bus.
![]() |
Gambar 2.14. Blok Diagram ADC
|
Ada 3 karakteristik yang perlu diperhatikan dalam pemilihan komponen
ADC, antara lain :
- Resolusi
Merupakan spesifikasi terpenting untuk ADC, yaitu jumlah langkah
dari sinyal skala penuh yang dapat dibagi, dan juga ukuran dari
langkah-langkah. Boleh juga dinyatakan dalam jumlah bit yang ada
dalam satu kata (digital word), ukuran LSB (langkah terkecil) sebagai
persen dari skala penuh atau dapat juga LSB dalam mV (untuk skala
penuh yang diberikan). Pada ADC0809 mempunyai ketelitian sebesar 1
bit LSB.
- Akurasi
Adalah jumlah dari semua kesalahan, misalnya kesalahan non
linieritas, skala penuh, skala nol dan lain-lain. Dapat menyatakan
perbedaan antara tegangan input analog secara teoritis yang
dibutuhkan untuk menghasilkan suatu kode biner tertentu terhadap
tegangan input nyata yang menghasilkan tegangan kode biner tersebut.
- Waktu Konversi
Waktu konversi adalah waktu yang dibutuhkan untuk mendigitalkan
setiap sample atau yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu
konversi. Untuk IC ini bekerja dibawah 100
.
Chip ADC yang banyak digunakan serta tersedia dipasaran adalah jenis
ADC 0804, ADC 0809 dan ADC 0808. chip ini dibuat dengan teknologi
CMOS mempunyai kemampuan melakukan konversi sebanyak 8 buah kanal
input analog secara multiplexing. Adapun data keluaran digital
yang dihasilkan adalah sebanyak 8 bit. Chip ini menawarkan beberapa
keistimewaan antara lain high speed ( kecepatan tinggi),
konsumsi daya yang rendah. Karenanya chip ini banyak digunakan pada
proses kontrol peralatan mesin-mesin serta aplikasi otomotif.
Konverter sendiri merupakan jantung dari chip ADC. Konverter didesain
untuk kecepatan konversi, keakuratan dan jangkauan yang luas dalam
suatu aplikasi. Proses konversi ADC0809 sendiri dapat dijelaskan
melalui diagram pewaktuan di bawah ini.
![]() |
Gambar 2.15. Diagram Pewaktuan ADC0809
|
Pada diagram pewaktuan di atas, tampak proses konversi mulai terjadi
saat sinyal ALE dan Start muncul. Sinyal analog di kanal sesuai yang
ditunjuk berdasarkan kaki A0, A1 dan A2 akan dikonversi menjadi
digital. Akhir proses konversi terjadi dengan adanya perubahan dari
logika 0 ke logika 1 pada kaki EOC. Data hasil konversi akan muncul
di Data Bus (D0…D7) saat sinyal OE berlogika 1 muncul.
Sensor ini berisi substrat thin film dari polimer atau metal ocide
yang dipasang diantara dua elektroda konduktif. Permukaan sensor
ditutup menggunakan elektroda metal untuk melindungi sensor tersebut
dari kontaminasi lingkungan disekitarnya. Substrat pada umumnya
terbuat dari glass, keramik atau silikon. Perubahan dielektrik
dari sensor kelembaban kapasitif proposional terhadap perubahan
kelembaban relatif dilingkungan sekitar sensor.
Gambar Sensor kelembaban kapasitif dapat dilihat pada gambar sebagai berikut:
Gambar Sensor kelembaban kapasitif dapat dilihat pada gambar sebagai berikut:
![]() |
Gambar. Sensor Kelembaban 808H5V5
|
Pada dasarnya, prinsip kerja kontaktor elektromagnetik sama
dengan relay. Namun biasanya kontaktor di gunakan untuk arus AC.
Biasanya kontaktor di gunakan secara bersamaan atau dikombinasi
dengan relay. Kontaktor elktromagnetik juga dapat dipergunakan
untuk pengasutan, pengereman berulang kali, dan pengendalian motor
dan peralatan elektrik, dengan menggunakan saklar tekan tombol untuk
kendali. Ia mempunyai kemampuan untuk pensaklaran arus lebih seperti
arus asut dari motor, tapi tak ada kemampuan untuk memutus arus
abnormal seperti dalam hal hubung singkat motor. Karena itu, untuk
pemutus arus abnormal, sekring atau pemutus daya juga diperlukan.

Gambar 2.14. Konstruksi Kontaktor Elektromagnetik
Relay adalah alat yang dioprasikan dengan listrik yang secara
mekanis mengontrol penghubungan rangkaian listrik. Relay adalah
bagian yang penting dari banyak sistem kontrol, bermanfaat untuk
kontrol jarak jauh dan untuk pengontrolan alat tegangan dan arus
tinggi dengan sinyal kontrol tegangan dan arus rendah. Pada dasarnya
relay adalah saklar elektromagnetik yang akan bekerja apabila
terdapat arus yang mengalir melalui kumparan, inti besi akan menjadi
magnet dan akan menarik kontak-kontak relay. Kontak-kontak atau
kutub-kutub dari relay umumnya memilki tiga dasar pemakaian yaitu :
- Bila kumparan dialiri listrik maka kontaknya akan menutup dan disebut sebagai kontak Normally Open (NO).
- Bila kumparan dialiri listrik maka kontaknya akan membuka dan disebut sebagai kontak Normally Close (NC).
- Tukar-sambung (Change Over/CO), relai jenis ini mempunyai kontak tengah yang normalnya tertutup tetapi melepaskan diri dari posisi ini dan membuat kontak dengan yang lain bila relai dialiri listrik.

Gambar 2.12. Jenis Kontak Relay
Selain itu juga relai akan dapat dipakai untuk 3 jenis pekerjaan
antar lain sebagai berikut:
- Relay adalah sebuah sakelar yang dikemudikan dari jauh.
Pompa dalam saluran-gas atau saluran minyak dapat
dijalankan atau dihentikan dari pusat-kemudi yang terletak jauh.
Pengemudi itu menggunakan sinyal-kemudi yang lemah saja.
- Relay bekerja sebagai penguat.
Tenaga kecil yang dikeluarkan sebuah sel-foto akan dapat (misalnya)
menggerakkan relay. Kontak-kontak relai ini
dapat menyalakan sederetan lampu penerangan jalan.
- Relay dapat menyimpan informasi.
Relay akan berada dalam salah satu kondisi berikut: menutup
atau membuka. Kondisi itu dapat diberi makna: “ya” atau “tidak”
; hidup atau mati ; 0 atau 1. sinyal 0 dan 1 merupakan dasarnya
system hitungan biner seperti yang diterapkan dalam komputer.
Relay dapat
menarik kontak-kontak, kalau gaya magnet dapat mengalahkan gaya pegas
yang melawannya. Maka kontak pun menutuplah. Besarnya gaya magnet
ditetapkan oleh kuat medan magnet yag ada di dalam celah udara,
diantara jangkar dan inti. Adapun kuat medan ini bergantung pula
kepada banyaknya lilitan kumparan itu, atau dengan singkat:
bergantung kepada ampere-lilitan.
Kuat medan didalam
celah udara juga akan makin kuat, kalau letak jangkar makin dekat
pada inti. Jarak antara jangkar dan inti dapat diatur-atur dengan
sekerup penyetel. Dengan jarak yang kecil, maka daya tarik dapat
dibesarkan, tetapi saat-saat membuka akan kurang memuaskan.
![]() |
Gambar 2.13. Konstruksi
Relay
|
Relay ada banyak sekali
variasinya, namun bekerjanya berdasarkan pada asas tersebut di atas
juga. Banyaknya kontak, besar gaya magnet yang diperlukan, dan cara
bagaimanakah gaya itu dilimpahkan kepada kontak-kontak, itu semua
bergantung kepada tujuan pengguna relay.
Operational Amplifier atau di singkat op-amp
merupakan salah satu komponen analog yang biasa digunakan dalam
berbagai aplikasi rangkaian elektronika. Op-amp pada dasarnya adalah
sebuah differential amplifier (penguat diferensial) yang
memiliki dua masukan, input (masukan) op-amp seperti yang telah
diketahui ada yang dinamakan input inverting dan non-inverting.
Aplikasi op-amp yang paling sering dibuat antara lain adalah
rangkaian inverter, non-inverter, integrator dan
differensiator. Di dalam op-amp rangkaian feedback (umpan
balik) negatif memegang peranan penting. Secara umum, umpanbalik
positif akan menghasilkan osilasi sedangkan umpanbalik negatif
menghasilkan penguatan yang dapat terukur.
Umpan Balik Negatif ( Negative Feedback )
Op-amp ideal memiliki open loop gain (penguatan loop
terbuka) yang tak terhingga besarnya. Penguatan yang sebesar ini
membuat op-amp menjadi tidak stabil, dan penguatannya menjadi tidak
terukur (infinite). Peran rangkaian negative feedback
(umpanbalik negatif) berfungsi untuk mangatasi permasalahan tersebut,
sehingga op-amp dapat dirangkai menjadi aplikasi dengan nilai
penguatan yang terukur (finite).
Non-Inverting Op-Amp
Prinsip
utama rangkaian penguat non-inverting
adalah seperti yang diperlihatkan pada
gambar 2.2. Penguat ini memiliki masukan yang dibuat melalui input
non-inverting.
Dengan demikian tegangan keluaran rangkaian ini akan satu fasa dengan
tegangan inputnya. Di dalam menganalisa rangkaian penguat op-amp non
inverting sama dengan cara menganalisa rangkaian penguat op-amp
inverting.

Gambar
2.2. Penguat Non-Inverting
Ada
dua aturan penting dalam melakukan analisa rangkaian op-amp
berdasarkan karakteristik op-amp ideal. Aturan ini dalam beberapa
literatur dinamakan golden rule,
yaitu :
- Aturan 1, perbedaan tegangan antara input V+ dan V- adalah nol (V+ - V- = 0 atau V+ = V- )
- Aturan 2, arus pada input Op-amp adalah nol (I(+) = I(-) = 0)
Dengan
menggunakan aturan 1 dan 2, kita uraikan dulu beberapa fakta yang
ada, antara lain :
Vin = V-
= V+ =
0 ....…………………………………………........(2.1)
Dari
sini ketahui tegangan jepit pada R2
adalah :
Vout – V-
= Vout –
Vin ................................................................(2.2)
Iout = (Vout – Vin) /
R2 ................................................................(2.3)
Lalu
tegangan jepit pada R1
adalah :
V-
=
Vin ........................................................................................(2.4)
IR1
= Vin /
R1 ........................................................................................(2.5)
Hukum
kirchkof pada titik input inverting merupakan fakta yang mengatakan
bahwa :
Iout + I(-)
=
IR1 ........................................................................................(2.6)
Aturan
2 mengatakan bahwa I(-)
= 0 dan jika disubsitusi ke rumus yang sebelumnya, maka diperoleh :
Iout =
IR1 ........................................................................................(2.7)
(Vout – Vin) / R2
= Vin / R1
Vout = Vin (1 +
R2/R1) ................................................................(2.8)
Jika
penguatan G adalah perbandingan tegangan keluaran terhadap tegangan
masukan, maka didapat penguatan op-amp non-inverting :
G = Vout/Vin = 1 +
R2/R1 ................................................................(2.9)
LM35 ialah sensor temperatur yang paling banyak digunakan
untuk praktek, karena selain harganya cukup murah, linearitasnya
lumayan bagus. LM35 tidak membutuhkan kalibrasi eksternal yang
menyediakan akurasi ±¼°C pada temperatur ruangan dan ±¾°C
pada kisaran -55 to +150°C. LM35 dimaksudkan untuk beroperasi
pada -55° hingga +150°C, sedangkan LM35C pada -40°C hingga
+110°C, dan LM35D pada kisran 0-100°C. LM35 juga tersedia pada
paket 8 kaki dan paket TO-220 seperti terlihat pada Gambar 2.1.
Sensor LM35 umumnya akan naik sebesar 10mV setiap kenaikan 1°C
(300mV pada 30 °C).

Gambar 2.1. Sensor Suhu LM35
Cara kerja rangkaian pada sensor tersebut adalah mendeteksi panas
yang terjadi pada saat motor beroperasi. Apabila panas yang terjadi
melebihi dari kapasitas/nilai setting pada motor, maka sensor akan
mendeteksi dan mengirimkan data berupa sinyal analog yang akan diubah
menjadi sinyal digital oleh ADC 0809.
Adapun
karakteristik dari LM35 ini adalah :
- Kalibrasi secara langsung dalam °Celsius.
- Bekerja secara linear dalam faktor skala + 10.0 mV/°C.
- 0.5°C ketelitian bisa menjamin ( pada + 25°C).
- Bekerja pada rating temperatur - 55° sampai + 150°C.
- Dapat dioperasi pada tegangan 4 – 30 volt.
- Kurang dari 60 µA arus yang dibutuhkan.
- Self-Heating rendah, 0.08°C di udara.
- Keluaran Impedansi rendah, 0.1 W untuk 1 mA.
A. Penjelasan Singkat Superkonduktor
Superkonduktor adalah fenomena dimana resistansi sebuah material turun menjadi 0 dan semua atom menjadi statis (efek kuantum dari Heisenberg Uncertainty Principle tidak kita perhitungkan untuk kesederhanaan). Tentunya, untuk menjadikan atom-atom material itu menjadi statis, temperatur yang sangat rendah dibutuhkan. Temperatur dimana sebuah material menjadi konduktor dinamakan critical temperature.
Temperatur ini berbeda-beda untuk setiap material. Material pertama yang ditemukan efek superkonduktivitasnya, Merkuri, mempunyai critical temperature serendah 4 derajat Kelvin (-269 derajat Celcius!). Secara logis, pakar-pakar menginginkan critical temperature ini supaya setinggi mungkin karena biaya untuk mendinginkan material itu akan berkurang. Tetapi, meskipun semakin banyak material yang mempunyai efek superkonduktifitas dengan critical temperature yang lebih tinggi ditemukan di milenium ketiga, tidak banyak penggunaan praktikal karena pertama, mereka tidak bisa mendapat arus listrik setinggi material-material yang lebih dulu ditemukan. Kedua, mereka tidak bisa membuat medan magnet yang kuat dan yang ketiga, sangatlah susah untuk membengkokkan material-material yang baru ditemukan menjadi kawat, dsb. Jadi, hanya superkonduktor generasi pertama yang lebih banyak digunakan dalam hidup kita.
Temperatur ini berbeda-beda untuk setiap material. Material pertama yang ditemukan efek superkonduktivitasnya, Merkuri, mempunyai critical temperature serendah 4 derajat Kelvin (-269 derajat Celcius!). Secara logis, pakar-pakar menginginkan critical temperature ini supaya setinggi mungkin karena biaya untuk mendinginkan material itu akan berkurang. Tetapi, meskipun semakin banyak material yang mempunyai efek superkonduktifitas dengan critical temperature yang lebih tinggi ditemukan di milenium ketiga, tidak banyak penggunaan praktikal karena pertama, mereka tidak bisa mendapat arus listrik setinggi material-material yang lebih dulu ditemukan. Kedua, mereka tidak bisa membuat medan magnet yang kuat dan yang ketiga, sangatlah susah untuk membengkokkan material-material yang baru ditemukan menjadi kawat, dsb. Jadi, hanya superkonduktor generasi pertama yang lebih banyak digunakan dalam hidup kita.
B. Keuntungan dari menggunakan superkonduktor:
- Tidak ada energi yang terbuang ketika superkonduktor ini menghantar arus listrik. Milyaran rupiah bisa kita selamatkan dengan menggunakan superkonduktor daripada konduktor biasa.
- Karena tidak ada resistansi dalam superkonduktor, sirkuit yang menggunakan superkonduktor tidak akan menjadi panas dan jadi, semakin banyak sirkuit yang bisa kita kompres per centimeter kubiknya. Kalau kita menggunakan konduktor biasa, sirkuit itu bisa terbakar jika kita mau mengkompres semakin banyak material karena panas yang terakumulasi dari resistansi material tersebut.
- superkonduktor ini bisa berfungsi sebagai transistor (sejenis komponen sirkuit yang bisa mengamplifikasi signal listrik dan digunakan di semua peralatan modern yang menggunakan listrik) tetapi bisa berfungsi 100 kali lebih cepat. Ini juga dikenal sebagai Josephson Junctions dan kalau dua Josephson Junctions ini kita gabung dengan tepat, mereka bisa mendeteksi medan magnet yang sangat kecil.
Superkonduktor menjanjikan banyak hal bagi kita, misalnya, transmisi listrik yang efisien (tak ada lagi kehilangan energi selama transmisi). Memang saat ini penggunaan superkonduktor belum praktis, dikarenakan masalah perlunya pendinginan. Suhu kritis superkonduktor masih jauh di bawah suhu kamar. Superkonduktor adalah suatu material yang tidak memiliki hambatan di bawah suatu nilai suhu tertentu. Suatu superkonduktor dapat saja berupa suatu konduktor, semikonduktor ataupun suatu insulator pada keadaan ruang. Suhu di mana terjadi perubahan sifat konduktivitas menjadi superkonduktor disebut dengan temperaturkritis(Tc).
Fisikawan asal Belanda Heike Kamerlingh Onnes melakukan eksperimen pengukuran resistansi air raksa murni yang didinginkan dengan helium cair pada suhu 4 K (Kelvin) atau -269 C (Celcius). Dari experiment tersebut, Onnes mengambil kesimpulan bahwa hambatan suatu logam akan turun (bahkan hilang sama sekali) ketika mendinginkan logam tersebut dibawah suhu ruang (suhu yang sangat dingin) atau setidaknya lebih rendah dari suhu kritis (critical temperature, Tc) logam tersebut.
Suhu kritis yang dimiliki tiap material untuk mencapai sifat superkonduktifitas-nya berbeda. Lalu apa yang terjadi bila bahan dapat didinginkan hingga mencapai suhu nol mutlak? Salah satu ilmuwan, William Kelvin sendiri memperkirakan bahwa ketika dicapai suhu nol mutlak (0 K) maka elektron akan berhenti mengalir (arus statis).
Yang menarik adalah ketika ditemukan material keramik yang ternyata dapat diubah menjadi bahan superkonduktor. Bahan keramik yang biasanya dikenal sebagai isolator karena tidak bisa menghantarkan listrik sama sekali pada suhu ruang, ternyata pada tahun 1986-1987 berhasil didobrak oleh Alex Miller dan George Bednorz, peneliti di Laboratorium Riset IBM di Rischlikon, Switzerland. Mereka membuat suatu keramik yang terdiri dari unsur Lanthanum, Barium Tembaga dan oksigen yang berhasil menciptakan material bersifat superkonduktor pada suhu tinggi, dengan menggunakan nitrogen cair sebagai pendinginnya.
Yang menarik adalah ketika ditemukan material keramik yang ternyata dapat diubah menjadi bahan superkonduktor. Bahan keramik yang biasanya dikenal sebagai isolator karena tidak bisa menghantarkan listrik sama sekali pada suhu ruang, ternyata pada tahun 1986-1987 berhasil didobrak oleh Alex Miller dan George Bednorz, peneliti di Laboratorium Riset IBM di Rischlikon, Switzerland. Mereka membuat suatu keramik yang terdiri dari unsur Lanthanum, Barium Tembaga dan oksigen yang berhasil menciptakan material bersifat superkonduktor pada suhu tinggi, dengan menggunakan nitrogen cair sebagai pendinginnya.
Superkonduktor belakangan ini menjadi topik pembicaraan dan penelitian yang paling populer. Superkonduktor menjanjikan banyak hal bagi kita, misalnya, transmisi listrik yang efisien (tak ada lagi kehilangan energi selama transmisi). Memang saat ini penggunaan superkonduktor belum praktis, dikarenakan masalah perlunya pendinginan. Suhu kritis superkonduktor masih jauh di bawah suhu kamar.
Superkonduktor adalah suatu material yang tidak memiliki hambatan di bawah suatu nilai suhu tertentu. Suatu superkonduktor dapat saja berupa suatu konduktor, semikonduktor ataupun suatu insulator pada keadaan ruang. Suhu di mana terjadi perubahan sifat konduktivitas menjadi superkonduktor disebut dengan temperatur kritis (Tc).
Superkonduktor pertama kali ditemukan oleh seorang fisikawan Belanda, Heike Kamerlingh Onnes, dari Universitas Leiden pada tahun 1911. Pada tanggal 10 Juli 1908, Onnes berhasil mencairkan helium dengan cara mendinginkan hingga 4 K atau -269OC. Kemudian pada tahun 1911, Onnes mulai mempelajari sifat-sifat listrik dari logam pada suhu yang sangat dingin. Pada waktu itu telah diketahui bahwa hambatan suatu logam akan turun ketika didinginkan di bawah suhu ruang, tetapi belum ada yang dapat mengetahui berapa batas bawah hambatan yang dicapai ketika temperatur logam mendekati 0 K atau nol mutlak.
Beberapa ahli ilmuwan pada waktu itu seperti William Kelvin memperkirakan bahwa elektron yang mengalir dalam konduktor akan berhenti ketika suhu mencapai nol mutlak. Di lain pihak, ilmuwan yang lain termasuk Onnes memperkirakan bahwa hambatan akan menghilang pada keadaan tersebut. Untuk mengetahui yang sebenarnya terjadi, Onnes kemudian mengalirkan arus pada kawat merkuri yang sangat murni dan kemudian mengukur hambatannya sambil menurunkan suhunya. Pada suhu 4,2 K, Onnes terkejut ketika mendapatkan bahwa hambatannya tiba-tiba menjadi hilang. Arus mengalir melalui kawat merkuri terus-menerus. Dengan tidak adanya hambatan, maka arus dapat mengalir tanpa kehilangan energi.
Percobaan Onnes dengan mengalirkan arus pada suatu kumparan superkonduktor dalam suatu rangkaian tertutup dan kemudian mencabut sumber arusnya lalu mengukur arusnya satu tahun kemudian ternyata arus masih tetap mengalir. Fenomena ini kemudian oleh Onnes diberi nama superkonduktivitas. Atas penemuannya itu, Onnes dianugerahi Nobel Fisika pada tahun 1913.
Transistor adalah alat semikonduktor yang dipakai sebagai penguat, sebagai sirkuit pemutus dan penyambung (switching), stabilisasi tegangan, modulasi sinyal atau sebagai fungsi lainnya. Transistor dapat berfungsi semacam kran listrik, dimana berdasarkan arus inputnya (BJT) atau tegangan inputnya (FET), memungkinkan pengaliran listrik yang sangat akurat dari sirkuit sumber listriknya.
Cara Kerja Transistor
Dari banyak tipe-tipe transistor modern, pada awalnya ada dua tipe dasar transistor, bipolar junction transistor (BJT atau transistor bipolar) dan field-effect transistor (FET), yang masing-masing bekerja secara berbeda.
Transistor bipolar dinamakan demikian karena kanal konduksi utamanya menggunakan dua polaritas pembawa muatan: elektron dan lubang, untuk membawa arus listrik. Dalam BJT, arus listrik utama harus melewati satu daerah/lapisan pembatas dinamakan depletion zone, dan ketebalan lapisan ini dapat diatur dengan kecepatan tinggi dengan tujuan untuk mengatur aliran arus utama tersebut. FET (juga dinamakan transistor unipolar) hanya menggunakan satu jenis pembawa muatan (elektron atau hole, tergantung dari tipe FET). Dalam FET, arus listrik utama mengalir dalam satu kanal konduksi sempit dengan depletion zone di kedua sisinya (dibandingkan dengan transistor bipolar dimana daerah Basis memotong arah arus listrik utama). Dan ketebalan dari daerah perbatasan ini dapat dirubah dengan perubahan tegangan yang diberikan, untuk mengubah ketebalan kanal konduksi tersebut.
Jenis-jenis Transistor
Secara umum, transistor dapat dibeda-bedakan berdasarkan banyak kategori:
- Materi semikonduktor: Germanium, Silikon, Gallium Arsenide
- Kemasan fisik: Through Hole Metal, Through Hole Plastic, Surface
- Mount, IC, dan lain-lain
- Tipe: UJT, BJT, JFET, IGFET (MOSFET), IGBT, HBT, MISFET, VMOSFET,
- MESFET, HEMT, SCR serta pengembangan dari transistor yaitu IC
- (Integrated Circuit) dan lain-lain.
- Polaritas: NPN atau N-channel, PNP atau P-channel
- Maximum kapasitas daya: Low Power, Medium Power, High Power
- Maximum frekuensi kerja: Low, Medium, atau High Frequency, RF
- transistor, Microwave, dan lain-lain
- Aplikasi: Amplifier, Saklar, General Purpose, Audio, Tegangan
- Tinggi, dan lain-lain
![]() |
| Transistor PNP |
![]() |
| Transistor NPN |
![]() |
| Transistor P-Channel |
![]() |
| Transistor N-Channel |
Karakteristik Input
Transistor adalah komponen aktif yang menggunakan aliran electron sebagai prinsip kerjanya didalam bahan. Sebuah transistor memiliki tiga daerah doped yaitu daerah emitter, daerah basis dan daerah disebut kolektor. Transistor ada dua jenis yaitu NPN dan PNP. Transistor memiliki dua sambungan: satu antara emitter dan basis, dan yang lain antara kolektor dan basis. Karena itu, sebuah transistor seperti dua buah dioda yang saling bertolak belakang yaitu dioda emitter-basis, atau disingkat dengan emitter dioda dan dioda kolektor-basis, atau disingkat dengan dioda kolektor.
Bagian emitter-basis dari transistor merupakan dioda, maka apabila dioda emitter-basis dibias maju maka kita mengharapkan akan melihat grafik arus terhadap tegangan dioda biasa. Saat tegangan dioda emitter-basis lebih kecil dari potensial barriernya, maka arus basis (Ib) akan kecil. Ketika tegangan dioda melebihi potensial barriernya, arus basis (Ib) akan naik secara cepat
Karakteristik Output
Sebuah transistor memiliki empat daerah operasi yang berbeda yaitu daerah aktif, daerah saturasi, daerah cutoff, dan daerah breakdown. Jika transistor digunakan sebagai penguat, transistor bekerja pada daerah aktif. Jika transistor digunakan pada rangkaian digital, transistor biasanya beroperasi pada daerah saturasi dan cutoff. Daerah breakdown biasanya dihindari karena resiko transistor menjadi hancur terlalu besar.
Karakteristik Transfer Transistor
Parameter dari transistor merupakan perolehan arus maksimum yang dapat diperoleh kalau transistor bekerja dalam ragam umum emitter (CE). Beta dc (disimbolkan βdc) sebuah transistor didefinisikan sebagai rasio arus kolektor dc dengan arus basis dc. Beta dc juga dikenal sebagai gain arus karena arus basis yang kecil dapat menghasilkan arus kolektor yang jauh lebih besar
Transistior merupakan Divais semikonduktor yang diklasifikasikan dalam 2 pembagian besar, yaitu: Bipolar Juction Transistor (BJT) atau biasa disebut dengan Transistor bipolar dan Field Effect Transistor (FET) atau Transistor unipolar. Pada umumnya, Transistor digunakan untuk: (1) sebagai saklar, (2) pembentuk sinyal dan (3) penguat. Contoh sebuah Transistor tampak pada Gamba
Terdapat dua jenis kontruksi dasar Transistor bipolar, yaitu jenis NPN dan jenis PNP. Untuk jenis NPN, Transistor terbuat dari lapisan tipis semikonduktor tipe-p dengan tingkat doping yang relatif rendah, yang diapit oleh dua lapisan semikonduktor tipe-n. Dari pembuatan ini, maka terdapat 2 persambungan (junction) antara semikonduktor tipe n dan tipe p. Persambungan ini memiliki sifat dan karakteristik seperti Dioda biasa, yang telah dibahas sebelumnya. Karena alasan sejarah pembuatannya, bagian di tengah disebut “basis” (base), salah satu bagian tipe-n (biasanya mempunyai dimensi yang kecil) disebut “emitor” (emitter) dan yang lainya sebagai “kolektor” (collector).
Bagian Emiter yang merupakan bagian sedang dalam transistor didoping sangat banyak, Basis yang merupakan bagaian paling tipis didoping dengan konsentrasi sedikit sekali, dan Kolektor yang merupakan bagian terbesar dalam transistor didoping sedang. Perbandingan konsentrasi doping antara Basis, Kolektor, dan Emiter adalah 1015 , 1017 , dan 1019. Jadi, sifat elektrik masing-masing terminal tidak simetris dan masing-masing keluaran tidak dapat dipertukarkan. Tingkat Doping dan pembagian ini akan bermanfaat untuk mendukung fungsi dan cara kerja Transistor. Tanda panah pada simbol Transistor menunjukkan kaki emitor dan titik dari material tipe-p ke material tipe-n.
Perhatikan bahwa untuk jenis NPN, transistor terdiri dari dua sambungan p-n yang berperilaku seperti dioda. Setiap dioda dapat diberi panjar maju atau berpanjar mundur, sehingga transistor dapat memiliki empat modus pengoperasian. Salah satu modus yang banyak digunakan disebut “modus normal”, yaitu sambungan emitor-basis berpanjar maju dan sambungan kolektor-basis berpanjar mundur. Modus ini juga sering disebut sebagai pengoperasian transistor pada “daerah aktif
![]() |
Gambar Transitor NPN dan PNP |
Simbol:


BJT
BJT (Bipolar Junction Transistor) adalah salah satu dari dua jenis transistor. Cara kerja BJT dapat dibayangkan sebagai dua dioda? yang terminal positif atau negatifnya berdempet, sehingga ada tiga terminal. Ketiga terminal tersebut adalah emiter (E), kolektor (C), dan basis (B). Perubahan arus listrik dalam jumlah kecil pada terminal basis dapat menghasilkan perubahan arus listrik dalam jumlah besar pada terminal kolektor. Prinsip inilah yang mendasari penggunaan transistor sebagai penguat elektronik. Rasio antara arus pada koletor dengan arus pada basis biasanya dilambangkan dengan β atau hFE. β biasanya berkisar sekitar 100 untuk transistor-transisor BJT
![]() |
Gambar Transistor Bipolar |
FET
FET dibagi menjadi dua keluarga: Junction FET (JFET) dan Insulated Gate FET (IGFET) atau juga dikenal sebagai Metal Oxide Silicon (atau Semiconductor) FET (MOSFET). Berbeda dengan IGFET, terminal gate dalam JFET membentuk sebuah dioda dengan kanal (materi semikonduktor antara Source dan Drain). Secara fungsinya, ini membuat N-channel JFET menjadi sebuah versi solid-state dari tabung vakum, yang juga membentuk sebuah dioda antara antara grid dan katode. Dan juga, keduanya (JFET dan tabung vakum) bekerja di "depletion mode", keduanya memiliki impedansi input tinggi, dan keduanya menghantarkan arus listrik dibawah kontrol tegangan input. FET lebih jauh lagi dibagi menjadi tipe enhancement mode dan depletion mode. Mode menandakan polaritas dari tegangan gate dibandingkan dengan source saat FET menghantarkan listrik. Jika kita ambil N-channel FET sebagai contoh: dalam depletion mode, gate adalah negatif dibandingkan dengan source, sedangkan dalam enhancement mode, gate adalah positif. Untuk kedua mode, jika tegangan gate dibuat lebih positif, aliran arus di antara source dan drain akan meningkat. Untuk P-channel FET, polaritas-polaritas semua dibalik. Sebagian besar IGFET adalah tipe enhancement mode, dan hampir semua JFET adalah tipe depletion mode.

Transistor dapat dipergunakan antara lain untuk:
1. Sebagai penguat arus, tegangan dan daya (AC dan DC) seperti amplifier
2. Sebagai penyearah
3. Sebagai mixer
4. Sebagai osilator
5. Sebagai switch
6. Sebagai stabilisator pada adaptor
















